Thursday, August 12, 2010

Bike Equipment: Clipless Pedal dan Sepatu

Mungkin salah satu hal yang cukup sulit dikuasi selama bersepada MTB tahun ini adalah belajar menggunakan clipless pedal (jaman dulu sepeda balap menggunakan clip atau sarung sepatu agar sepatu tidak mudah lepas dari pedal). Teknologi terakhir sudah menggunakan clipless (istilah nya dimana clip atau sarung tidak digunakan lagi) namun sepatu melekat ke pedal dengan suatu mekanisme pengait dibawah sepatu, diperkenalkan sepertinya di road bike balap lalu mulai populer juga di MTB.

Keunggulan Clipless                
Membuat kayuhan lebih efisien karena kaki/sepatu melekat ke pedal baik waktu menggenjot pedal kebawah maupun membantu mengangkat pedal keatas.  Gerakkan sepatu/kaki di pedal juga minim sehingga tidak ada risiko kaki melesat dari pedal karena licin. Untuk balap sudah umum harus menggunakan clipless untuk efisiensi kayuhan maksimal

Kelemahan Clipless
Untuk pemula perlu learning curve yang cukup panjang belum lagi risiko jatuh (jatuh bodoh, lupa melepaskan kaki). Tentunya perlu investasi pedal clipless + sepatunya.

Ada berbagai metoda clipless namun tipe clipless SPD - dari Shimano cukup terkenal dan banyak dipakai. Tentunya ada dua sisi yaitu pedal clipless dan sepatu yang sudah bisa menggunakan clipless.

Biasanya pada saat membeli clipless pedal disertai dengan istilahnya "Cleat" itu sendiri yang harus di baut/di sekrup ke bagian bawah sepatu yang sudah menyediakan lubang untuk memasang cleat. Sehingga secara prinsip cleat yang digunakan disesuaikan dengan clipless pedal yang digunakan.

Selain Shimano SPD series, tentunya banyak produsen lain yang mengeluarkan pedal clipless salah satu yang terkenal adalah pedal clipless buatan crank brothers dengan seri "egg beaters" yang minimalis dan ringan di bobot sehingga banyak digunakan untuk racing. Namun tidak bisa di atur kekerasan cleat merekat ke pedal.

Untuk pemula dengan SPD series bisa menggunakan brand Shimano atau yang compatible dengan SPD, Shimano M520 adalah entry level lalu ada M540, M770 (XT series) dan M940 (XTR series) biasanya berpengaruh pada bobot.

Berikut link dari website shimano untuk clipless sepeda MTB
http://bike.shimano.com/publish/content/global_cycle/en/us/index/products/pedals/mountain.html

Pedal
Saya sendiri menggunakan clipless pedal Shimano M520 yang cukup bersahabat harganya waktu mencoba pertama kali. Dan ada juga clipless pedal bawaan Trance X0 dengan merek Exustar yang beratnya setara dengan berat model M770 XT series. Dari pengalaman yang M520 masih lebih mudah menggunakannya sedangkan tipe Exustar sedikit lebih sulit dalam memasukkan cleat ke pedal, meski cleat sudah bawaan dari pedalnya.
M520 Shimano SPD clipless

Exustar clipless


Sepatu
Selain dari pedal itu sendiri, maka untuk menggunakan clipless pedal harus menggunakan sepatu yang bisa dipasangi "cleat" dibagian bawahnya. Untuk pertama kali beli sepatu cleat menggunakan sepatu Shimano MT32 warna hitam yang cukup netral dengan warna perlengkapan sepeda apa saja. Shimano MT32 merupakkan sepatu clipless untuk MTB. Saat ini sepatu Shimano MT32 malah tidak dipasangi cleat dan lebih banyak menemani gowes dengan Trance X + pedal bukan clipless. Alasannya untuk gowes off road ke area gunung, single track dsb, masih belum pd takut jatuh bodoh (alias lupa melepaskan cleat dari pedal dan akhirnya jatuh, selama ini sudah 2 kali jatuh bodoh dengan clipless).
Sepatu clipless dipasaran cukup banyak jenis dan mereknya, dari yang paling murah untuk pemula, untuk yang serius dan untuk pembalap professional yang umumnya sudah menggunakan bahan karbon dan dengan alas kaki yang kaku. Untuk all mountain ada jenis nya juga yang favorit dari Shimano tentunya DX series, dengan flat bottom (datar tidak ada lekukan). Harganya tentunya bervariasi, kasta tertinggi bisa mencapai kisaran 2-3 jt an, untuk pemula dibawah 1jt an di kisaran 500rb sudah ok untuk mulai.

Shimano MT32 warna hitam

Sepatu clipless lebih buat ngebut. buat pemula Shimano SH-M123S foto dan barang beli di Wei Min Semeru Bogor. Dipasangkan dengan exustar clipless dan si biru Terrago. Seri ini ada yang lebih keren dgn harga lebih mahal sedikit dgn warna Putih hitam mirip zebra yaitu SH-M161W baru keluar di 2009 -2010

Terakhir cara menggunakan clipless dan melepasnya.
Memasukkan cleat ke pedal cukup mudah dengan mengira2 posisi cleat dimana lalu memasukkan bagian depan cleat dulu ke pengait di pedal baru bagian belakang cukup dengan menekan kaki kebawah.
Untuk melepaskannya perlu menyerongkan kaki/sepatu ke arah luar atau dalam dari pedal maka cleat langsung terlepas dari pedal. Perlu latihan berkali2 sehingga terbentuk reflek, karena jika tidak maka kadangkala keasyikan berhenti tapi lupa melepaskan cleat dari pedal lalu akhirnya jatuh bodoh... lumayan ada yang bisa pergelangan tangannya retak... loh (kata orang), mungkin terkantuk ke aspal atau batu.

Cara menggunakan cleat dan clipless pedal dapat dilihat di web berikut ini
http://www.youtube.com/watch?v=wcSF-7oJ1Ac

Beberapa website mengenai pedal
http://www.chainreaction.com/pedalfaq.htm

Sepedahan Sendiri: Breaking personal record again

Sepedahan pagi2 dari rumah jam 5:21 mengitari trek latihan yang memutar ke lampu merah wr. jambu sampai dengan putaran U setelah jembatan ke ara Villa Duta. Waktu pertama kali dicatat ukuran waktu diatas 30 menit satu lap. Kemudian menjadi 25 menit, dan terakhir 24 menit 10 detik dengan si biru Terrago lalu, 21 menit dengan si putih Kuwahara dan 23 menit dengan trance, baru pagi ini kembali mengukur waktu satu lap amazingly menjadi 17 menit 30 detik an kembali dengan si Biru Terrago.
Itu pun cukup tidak digenjot habis, perbedaannya, kalau waktu dulu chainring di mid gear (2nd), sudah beberapa minggu ini kalau menggunakan si biru Terrago selalu menggunakan largest chainring di depan, dan umumnya menggunakan smallest sprocket (plg besar di depan + paling kecil di belakang) waktu turunan dan tanjakan paling turun ke mid gear di sprocket (ke empat dari yang paling kecil). Meski menanjak di jembatan atas tol tetap pakai chainring terbesar + sprocket di no 4 dari kecil.
Dampaknya speed rata-rata meningkat diatas 15-20km.
Tentunya bertujuan untuk melatih otot kaki, meskin secara cadence mungkin tidak meningkat jauh. Tidak lupa setelah latihan makanan bergizi untuk menggantikan atau menambah sel-sel otot.
Next challenge ... tetap mempertajam lap record... dampaknya ke gowes endurance memang tidak banyak tapi lumayanlah ada perkembangan. Jadi benar adanya latihan membawa dampak baik otot maupun kemampuan jantung.

Tuesday, August 10, 2010

Bike Equipment: Deuter Bike 1 dan Deuter Race X

Setelah experiment gagal merubah ransel hydration pack dari warna orange menjadi hitam... akhirnya tidak punya tas hydration yang mantap untuk sepedahan. Browsing di internet, harga ransel yang hydration ready (tanpa hydration pack) tetap lumayan mahal terutama Camelback, Deuter dsb. Tiba2 ketemu tidak sengaja ada yang jual Deuter dengan harga lumayan miring di sepedaku dan ada di Facebook "Tas Sepeda Keren" harga miring waktu itu katanya produksi Vietnam (licensed khusus pasaran Asia). Sempat ragu tapi akhirnya nekat juga pesan. Habis pesan dan bayar ternyata di google ada barang Deuter palsu yang dijual di Malaysia dan sama dari Vietnam melihat fotonya ngeri juga... karena seperti tiruan gagal habis. Tapi karena kepalang sudah pesan yang di terima saja lah.
Tidak sampai 2 hari barang datang di rumah dibungkus plastik sekilas lega juga melihatnya karena bentuknya udah sama dengan barang aslinya. Belum sempat dibuka, habis pulang kantor mandi, makan dan temani anak2 tidur. Baru malamnya dibongkar dan ternyata mantap banget... Kualitas tidak kalah (kalau memang bukan asli) baik bahan tas, dan karet2 pengikat pinggang yang terbuat seperti dari bahan karet dan berbentuk jaring2, lalu air flow di sisi punggung semua kualitas mantap. Ada juga rain cover built in baik di Bike 1 dan Race X. Namun di Bike 1 ada jaring lentur untuk menyimpan helmet.
Kantung lumayan banyak yang kecil, besar dsb, khusus Race X ada kantung kecil diatas sepertinya bisa buat simpan player dsb. Sayang disisi ikat pinggangnya tidak ada kantong buat simpan hp. Bike 1 ukuran 20 liter cocok untuk perjalanan jarak jauh bisa diisi baju ganti, peralatan pendukung sepeda, makanan dsb. Untuk Race X ukuran 12L cocok untuk jarak menengah, keduanya bisa diisi hydration pack/streamer 3 liter.
Dengan harga tersebut (tanpa streamer nya, karena sudah ada yang murah buatan eiger dan satu lagi beli di kaskus) dan kualitas barang nya sudah pasti Value for Money. Batal deh pesan di Chainreactioncycle.com.
Boleh dicoba sayang sepertinya cuman ada Bike 1, Race X dan Race Exp X, padahal sedang chari yang ukuran kecil atau compact exp 8 warna biru siapa tahu ada... buat short trip... sekali lagi recommended.

Foto Brosur



Bike 1 ukuran 20L (kempes tanpa isi)

mencoba helmet net (tapi kurang gembung nih)

Kantung rain cover dibawah

Rain cover warna hijau/kuning stabilo

Kantung serba guna kecil di depan

Isi tas didalam (dan tempat hydration pack)

Airstripes from Deuter... dgn bantalan kotak2 dibalik jaring

Ikat pinggang jaring dari bahan seperti karet

Card guide lengkap

Race X ukuran 12L

Teknologi air stripe sama namun pengikat punggung bukan solid tapi jaring dengan bahan seperti karet sehingga tidak menghalangi aliran udara ke dada

Velcro untuk menjepit selang streamer/hydration

Kantong kecil di Race X serupa dgn Bike 1

Kantung kecil di sisi atas punggung sepertinya bisa untuk player atau ipod dsb

Built in rain cover juga std ada



Tuesday, August 3, 2010

Sepedahan Keluarga: Car Free Day Jakarta

Sekalian liburan bareng keluarga pilih nginep di Jakarta aja dan tentunya bawa sepeda untuk mencoba gowes keluarga di Sudirman-Thamrin waktu Car Free Day. Kali ini CFD jatuh di bulan puasa, ternyata tidak rugi juga karena relatif sepi tidak sepadat CFD biasanya, sehinga udara dan gowes bareng terasanya nyaman. Jalur mulai dari Bunderan HI (Nginep di Ascott di belakang Grand Indonesia), lanjut ke Monas, disini Hudsen my friend yang gowes dari rumah gabung dan kita lanjut gowes ke Sudirman putar balik di depan Ratu Plaza. (Hanya saja puteran di depan Ratu Plaza agak berbahaya karena jalur mobil masih terbuka sebelum ditutup kembali tepat di depan Ratu Plaza. Yang Jualan masih lumayan ada, beli celana sepeda, Hudsen my friend sepertinya borong jersey/celana tuh. Oh ketemu Brian-Epey yang sudah tinggal di Jakarta, ternyata apartmentnya tidak jauh dari HI, dan kita foto2 bareng anaknya si Darren di Bunderan HI, kapan lagi... Narsis di Bunderan HI kalau ngan ikutan Demo mungkin ngak kesampaian he.he.

Persiapan mulai dari Bunderan HI, banyak Fixie bertebaran, with My Daughter Dhea
My Wife and my Eldest Daughter Vara
Narsis di depan Patung Kuda dekat Monas
My Wife Narsis Dulu
My Friend Hudsen baru tiba
 Thamrin yang relatif lenggang

 Nunggu lampu merah ada petugas CFD loh, keren
  
Kembali di Bunderan HI
 My Friend Hudsen narsis dulu
 Polisi bersepeda juga... mantap
 Hyatt dan Plaza Indonesia in the background, HI yang lenggang
 Goweser unik di Sudirman
 Gowes di Semanggi...
 Sebelum putar balik di depan Ratu Plaza
 Ketemu my other friend Brian yg tinggal di Jakarta beserta Seli Dahonnya
 Foto bareng keluarga Brian-Epey-Darren di HI
 Panoramic view of HI
 Foto gowes keluarga di HI