Tuesday, August 17, 2010

Sepedahan Bersama: Rindu Alam 2

Harpitnas Senin tgl 16 Agustus 2010 ditambah bulan puasa, sudah ambil cuti untuk gowes ke Telaga Warna. Namun karena satu dan lain hal tinggal bertiga, dan itu Bro Aloy dan Davy yang bisa join, karena memang wirausaha jadi lebih mudah ngatur schedule. Setelah mempertimbangkan trek, akhirnya dibatalkan dan pilih jalur RA biasa karena sudah pernah takutnya Bro Davy yang baru mulai off road kaget. Tapi di RA ternyata memang jalurnya memang lebih berat dari segi teknisnya terutama waktu blusukan ke single trek nya yang parah. Bro Davy sempat oleng 2 kali sehingga basah bajunnya. Jalur RA terbaik sebenarnya setelah keluar V trek yaitu sebelum Gn.Mas. Kali ini meski pagi2 sudah mulai nge-treck (skt Jam 7:15) jalur benar2 sepi selain masih pagi, hari senin dan juga puasa. Waktu melewati jalur yang terdengar hanya kicauan burung dan sebentar2 decitan rem Juicy metal pad nya yang agak berisik. Sangat rileks banget, seperti sedang meditasi meski diatas sadel sepedahan. Udara segar benar2 masuk ke paru2 mengeluarkan racun2 polusi. Mantap banget, cuaca malamnya hujan sedangkan pagi di Bogor masih mendung, tapi setibanya di RA lumayan sudah cerah dengan Matahari yang sudah keluar meski diselingi sedikit awan, jadi tidak terlalu terik. Jalur sekitar Gn. Mas sepertinya harus dikunjungi lagi sekedar untuk sepedahan pagi2 sangat mantap. Mungkin perlu membuat track khusus kebon teh saja.
Setelah melewati Gn.Mas dan akhirnya tiba di Taman Safari langsung menuju tanjangan Ngehe1, sepi tidak ada anak2 dan ojek yang giat menawarkan ojek sepeda keatas. Mau ngak mau langsung coba gowes cuman sampai di pelataran pertama sudah berhenti. Lumayan he.he. Ngak lama ternyata ada beberapa anak kecil yang belum puasa langsung menawarkan ojek, nyerah lagi kali ini terutama untuk Bro Davy yang benar2 kecapaian (habis perokok berat sih :). Kali ini sasaran ke Ngehe 2 dan lanjut ke jalur hutan lindung. Sesampainya di saung Ngehe 2 kabut langsung menyerbu yang tadinya tipis2 akhirnya bertambah tebal dan langsung diiringi hujan sedang. Sambil menyantap bekal, pikir2 apa mau lanjut ke atas lagi atau balik lagi. Kabut tambah tebal lagi sehingga hanya jarak pandang 10-20 meter. Bukit diseberang langsung hilang. Akhirnya sepakat turun lagi daripada nanti nyasar atau terjadi apa2 lagian jalur ke atas setelah Ngehe 2 belum ada yang pernah lewat dan hanya berbekal si MinMin alias GPS Garmin, lagian Bro Aloy dan Davy tidak bawa jas hujan meski waktu berangkat sudah di sediakan di Mobil (abis paginya langsung cerah, memang tidak bisa ditebak, pengalaman penting selalu berbekal lengkap). Ide Bro Aloy pakai shower cap di helm boleh juga, seperti Polisi di Eropa gitu.
Start off, dari Wr. Mang Ade
Panoramic view dari Sony TX-5 langsug dicoba
Another Panoramic view
Narsis dulu dgn latar belakang jalan raya puncak
Lokasi yang sama
Narsis dong buat yang bawa kamera
Nyeberang sungai siapa takut... kamera ready
Ayo... nyeberang ati-ati sepatu nyemplung
Jalur V track yang paling tidak enak
Jalur di kebun teh... mantap... loh kok di TTB ayo semangat
Narsis lagi di spot favorit
Bro Aloy... masih semangat
Dibawah sinar mentari pagi yang lembut, udara segar, dan suasana hening pagi luar biasa
Istirahat sambil check HP
Ayo TTB lagi Bro Davy... Semangat
Jalur di Gn Mas boleh juga buat sama keluarga sepertinya
Wuah ini baru 1/2 Ngehe 1
Di Saung Ngehe 2 jemur kaos kaki dan celana yang basah
Kabut menyerang cepat
Siap2 naik atau turun hujan sudah lumayan, siapkan gear berikut shower cap? wah boleh juga
Jalur diseberang
Sampai di Hutan Lindung
Masuk ke hutan lindung dan akhirnya keluar ke jalur  jl raya.
Track GPS - GPX di www.gpsed.com (sedikit berbeda dengan pernah ada)
Altitude profile, terlihat tanjakan Ngehe1-2 di tengah2

Link ke www.gpsed.com

Next Time: Telaga Warna atau Ngehe2 Lanjut Hutan Lindung... dengan persiapan lebih lengkap


Thursday, August 12, 2010

Bike Equipment: GPS Garmin Etrex Vista Hcx



Pengalaman gowes berdua dengan Yanto waktu itu ke Rindu Alam, dua2 nya baru pernah ke RA. Untuk itu mengandalkan track route menggunakan software NavFunPro di Blackberry. Lumayan sampai sekitar 1/3 perjalanan sebelum salah tekan lalu keluar dari program dan setelah coba di load lagi, sinyal satelit hilang dan tidak ketemu-ketemu. Untungnya sudah di area perkebunan teh Gn. Mas. Setelah itu nge-track pakai cara traditional alias tanya kanan dan kiri, untung jalur sepeda cukup populer sehingga tidak nyasar.

Dari situ baru ketahuan tracking menggunakan HP/Mobile Phone memang bukan solusi mumpuni terutama saat sinyal HP rendah sehingga tidak bisa buka google map sekalipun (padahal NavFunPro sudah menggunakan downloaded Google map sehingga tidak perlu download via gprs/3g). Kualitas penerimaan GPS HP/Mobile phone memang relatif lebih kurang peka.

Dari situ mulai hunting GPS unit yang lumayan tidak terlalu rendah sehingga tidak bisa map, dan juga tidak terlalu mahal. Pilihan jatuh ke merek Garmin yang punya dukungan luas di Indonesia termasuk map nya. Di kelas atas tentunya ada Garmin Oregon dengan full screen layar sentuh dan bahkan foto + geotag untuk Garmin Oregon 550, ada juga Garmin Edge 705 khusus untuk sepedahan dengan sensor cadence (gowesan), detak jantung dan fitur2 khusus training sepeda. Di kelas menengah ada Versi etrex, dan versi 60 csx dsb.

Pilihan akhirnya jatuh ke versi etrex yang relatif sudah terkenal, ukuran compact. Versi Etrex Vista Hcx jadi tujuan utama karena sudah ada USB connection, Electronic Compass (meski belum tilt adjusted), dan tentunya pengukur ketinggian atau barometric altitude yang lebih akurat dibandingkan melalui pengukuran satelit.

Sudah berikut peta NavMap Indonesia sehingga bisa digunakan untuk navigasi jalan raya, dengan auto routingnya, fasilitas matahari terbit/terbenam dan bulan, pasang surut air laut dsb. Yang paling banyak digunakan tentunya fasilitas "Track" untuk merekam perjalanan dan menyusuri nya kembali.

Hasil pengalaman pakai cukup memuaskan menggunakan handle bar clip nya sehingga bisa dipasang di stang sepeda. Penerimaan sangat cepat dari mulai dingin (mati) hingga menemukan sinyal satelit terutama bila masih diarea kisaran 100km, (tidak berpindah terlalu jauh). Bahkan hotfix dari cold boot juga tetap lumayan cepat skt 15 menit, dalam kondisi alam terbuka. Masuk ke area hutan pinus di Gn Pancar juga tidak berpengaruh banyak tetap bisa tracking dengan akurat. Etrex Vista Hcx memang punya review yg cukup baik. Terutama versi Hcx yang sudah menggunakan software hotfix sehingga menemukan sinyal satelit lebih cepat dan akurat.

Spesifikasi 



Ukuran di tangan



GPS di Handle bar Trance X0 siap membantu perjalanan trail sepeda
Tampilan cukup jelas kalau backlight diaktifkan, tanpa backlight pun masih terbaca.

Tempat Beli GPS dan Handlebar
Untuk beli di Jakarta cukup banyak, selain di Senayan STC, Ratu Plaza, kalau di daerah utara seperti Roxy, dsb. Atau bahkan dengan pesan antar COD lewat internet banyak yang mampu melayani dengan harga bersaing. Harus berhati2 waktu membeli tanya apakah sudah termasuk Map Indonesia? (dilengkapi jalan2 detil seluruh Indonesia atau hanya Jawa Bali). Karena bisa auto routing Map Indonesia sangat bermanfaat, ini map resmi sepertinya yang tidak resmi juga ada. Tanyakan juga apakah termasuk SD Card umumnya 1-4 GB, sudah termasuk. Untuk handle bar mount cukup sulit mencarinya tidak semua memiliki stock dan harganya kurang bersahabat hanya untuk sepotong plastik saja. Kualitasnya juga biasa saja harus diberi bantalan karet tipis agar tidak bergetar saat dipasang, tadinya mau bikin sendiri tapi keburu malas. Siapa tahu ada yang kreatif.

Bike Equipment: Modifikasi Tas Ransel agar Hydration Ready

Waktu pertama kali mulai main sepeda MTB, mulai kerasa kebutuhan air minum karena keringatan abis dan seringkali bawa botol tidak mencukup. Lalu mulailah kepikiran pakai tas hydration (karena lihat2 di majalah). Karena waktu itu belum pernah baca review, dan kebetulan lihat di kaskus ada jual microban bladder maka dipesanlah satu. Sambil menunggu barang datang pikir2 pakai tas apa... browsing di google ternyata harga tas hydration cukup mahal. Pernah ketemu tas hydration dan beli di factory outlet murah 50rban cuman bisa isi bladder aja dan tidak bisa bawa apa2 ini fotonya.


Karena sepedahan semakin jauh dan perlu bawa perlengkapan akhirnya cari alternatif lain.setelah mengetahui prinsip tas hydration ready, maka ada ide untuk menyulap tas ransel biasa menjadi hydration ready. Waktu belanja di Giant ada counter outdoor equipment merek REI dan tas ransel outdoornya looks cool in black dan murah. Langsung diembat dan dengan perlengkapan jahit, benang hitam, velcro hitam beli di toko hardware dan karet lentur warna hitam. Mulailah project modifikasi tas ransel menjadi hydration ready (tidak lupa kantung jenis parasut warna hitam untuk dijahit di bagian dalam ransel agar menjadi tempat bladder bersarang.

Berkut hasilnya:
Membuat lubang dibagian atas lalu diperkuat dengan bahan tali tas tebal dijahit melingkar dan menutupi sisi kasar

Tas ransel REI

Diberi karet elastis hitam untuk menjaga selang hydration tetap dijalurnya

Jahitan di atas lubang untuk selang bladder yang diperkuat karet elastis hitam yang dijahit di setiap sisinya agar benang dari karet tidak acak-acakan dan memperkuat ikatan
Bagian dalam dijahit bahan parasut hitam ke bagian belakang ransel untuk tempat sarang bladder

Tidak punya ransel hydration ready? tidak masalah... silahkan mencoba. (Tapi karena harga tas hydration ready saat ini sudah cukup murah mungkin hanya 2 kali dari harga ransel biasa merek REI contohnya. Modifikasi ini jadi agak kurang relevan, lihat artikel ransel hydration Deuter).

Bike Equipment: Clipless Pedal dan Sepatu

Mungkin salah satu hal yang cukup sulit dikuasi selama bersepada MTB tahun ini adalah belajar menggunakan clipless pedal (jaman dulu sepeda balap menggunakan clip atau sarung sepatu agar sepatu tidak mudah lepas dari pedal). Teknologi terakhir sudah menggunakan clipless (istilah nya dimana clip atau sarung tidak digunakan lagi) namun sepatu melekat ke pedal dengan suatu mekanisme pengait dibawah sepatu, diperkenalkan sepertinya di road bike balap lalu mulai populer juga di MTB.

Keunggulan Clipless                
Membuat kayuhan lebih efisien karena kaki/sepatu melekat ke pedal baik waktu menggenjot pedal kebawah maupun membantu mengangkat pedal keatas.  Gerakkan sepatu/kaki di pedal juga minim sehingga tidak ada risiko kaki melesat dari pedal karena licin. Untuk balap sudah umum harus menggunakan clipless untuk efisiensi kayuhan maksimal

Kelemahan Clipless
Untuk pemula perlu learning curve yang cukup panjang belum lagi risiko jatuh (jatuh bodoh, lupa melepaskan kaki). Tentunya perlu investasi pedal clipless + sepatunya.

Ada berbagai metoda clipless namun tipe clipless SPD - dari Shimano cukup terkenal dan banyak dipakai. Tentunya ada dua sisi yaitu pedal clipless dan sepatu yang sudah bisa menggunakan clipless.

Biasanya pada saat membeli clipless pedal disertai dengan istilahnya "Cleat" itu sendiri yang harus di baut/di sekrup ke bagian bawah sepatu yang sudah menyediakan lubang untuk memasang cleat. Sehingga secara prinsip cleat yang digunakan disesuaikan dengan clipless pedal yang digunakan.

Selain Shimano SPD series, tentunya banyak produsen lain yang mengeluarkan pedal clipless salah satu yang terkenal adalah pedal clipless buatan crank brothers dengan seri "egg beaters" yang minimalis dan ringan di bobot sehingga banyak digunakan untuk racing. Namun tidak bisa di atur kekerasan cleat merekat ke pedal.

Untuk pemula dengan SPD series bisa menggunakan brand Shimano atau yang compatible dengan SPD, Shimano M520 adalah entry level lalu ada M540, M770 (XT series) dan M940 (XTR series) biasanya berpengaruh pada bobot.

Berikut link dari website shimano untuk clipless sepeda MTB
http://bike.shimano.com/publish/content/global_cycle/en/us/index/products/pedals/mountain.html

Pedal
Saya sendiri menggunakan clipless pedal Shimano M520 yang cukup bersahabat harganya waktu mencoba pertama kali. Dan ada juga clipless pedal bawaan Trance X0 dengan merek Exustar yang beratnya setara dengan berat model M770 XT series. Dari pengalaman yang M520 masih lebih mudah menggunakannya sedangkan tipe Exustar sedikit lebih sulit dalam memasukkan cleat ke pedal, meski cleat sudah bawaan dari pedalnya.
M520 Shimano SPD clipless

Exustar clipless


Sepatu
Selain dari pedal itu sendiri, maka untuk menggunakan clipless pedal harus menggunakan sepatu yang bisa dipasangi "cleat" dibagian bawahnya. Untuk pertama kali beli sepatu cleat menggunakan sepatu Shimano MT32 warna hitam yang cukup netral dengan warna perlengkapan sepeda apa saja. Shimano MT32 merupakkan sepatu clipless untuk MTB. Saat ini sepatu Shimano MT32 malah tidak dipasangi cleat dan lebih banyak menemani gowes dengan Trance X + pedal bukan clipless. Alasannya untuk gowes off road ke area gunung, single track dsb, masih belum pd takut jatuh bodoh (alias lupa melepaskan cleat dari pedal dan akhirnya jatuh, selama ini sudah 2 kali jatuh bodoh dengan clipless).
Sepatu clipless dipasaran cukup banyak jenis dan mereknya, dari yang paling murah untuk pemula, untuk yang serius dan untuk pembalap professional yang umumnya sudah menggunakan bahan karbon dan dengan alas kaki yang kaku. Untuk all mountain ada jenis nya juga yang favorit dari Shimano tentunya DX series, dengan flat bottom (datar tidak ada lekukan). Harganya tentunya bervariasi, kasta tertinggi bisa mencapai kisaran 2-3 jt an, untuk pemula dibawah 1jt an di kisaran 500rb sudah ok untuk mulai.

Shimano MT32 warna hitam

Sepatu clipless lebih buat ngebut. buat pemula Shimano SH-M123S foto dan barang beli di Wei Min Semeru Bogor. Dipasangkan dengan exustar clipless dan si biru Terrago. Seri ini ada yang lebih keren dgn harga lebih mahal sedikit dgn warna Putih hitam mirip zebra yaitu SH-M161W baru keluar di 2009 -2010

Terakhir cara menggunakan clipless dan melepasnya.
Memasukkan cleat ke pedal cukup mudah dengan mengira2 posisi cleat dimana lalu memasukkan bagian depan cleat dulu ke pengait di pedal baru bagian belakang cukup dengan menekan kaki kebawah.
Untuk melepaskannya perlu menyerongkan kaki/sepatu ke arah luar atau dalam dari pedal maka cleat langsung terlepas dari pedal. Perlu latihan berkali2 sehingga terbentuk reflek, karena jika tidak maka kadangkala keasyikan berhenti tapi lupa melepaskan cleat dari pedal lalu akhirnya jatuh bodoh... lumayan ada yang bisa pergelangan tangannya retak... loh (kata orang), mungkin terkantuk ke aspal atau batu.

Cara menggunakan cleat dan clipless pedal dapat dilihat di web berikut ini
http://www.youtube.com/watch?v=wcSF-7oJ1Ac

Beberapa website mengenai pedal
http://www.chainreaction.com/pedalfaq.htm